| |
| Informasi
Bagi Calon Mahasiswa |
| Pada bagian
ini anda akan menemukan gambaran singkat tentang persiapan-persiapan
dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa melanjutkan
studi di Jerman. |
| |
| Informasi
Umum |
| |
| Secara umum
semua calon mahasiswa asing yang akan melanjutkan studi di Jerman
diharuskan menyiapkan hal-hal penting sebagai berikut: |
| |
| 1. |
Persiapan Bahasa
Jerman. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi
sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa
Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman
tidak bisa ditinggalkan. Kalaupun seseorang akan mengambil program
berbahasa Inggris, tetap saja kepadanya sangat dianjurkan untuk
menguasai Bahasa Jerman, paling tidak untuk komunikasi sehari-hari.
Tanpa penguasaan Bahasa Jerman yang memadai, kehidupan sehari-hari
akan terasa sulit dan dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasi
belajar nantinya. |
| |
|
| 2. |
Dokumen-dokumen
Penting. Beberapa dokumen penting yang harus dipersiapkan
diantaranya adalah Akte Kelahiran, Ijazah dari SD-SMP-SMA dan
juga Ijazah Sarjana beserta fotocopy yang telah dilegalisir.
Dokumen ini mohon disiapkan dalam jumlah yang cukup banyak,
karena semua UNI dan FH mensyaratkan dokumen asli atau fotocopy
yang telah dilegalisir. |
| |
|
| 3. |
Terjemahan Dokumen
ke dalam Bahasa Jerman. Semua dokumen-dokumen sebagaimana
dijelaskan dalam poin 2) harus diterjemahkan ke dalam Bahasa
Jerman oleh penerjeman yang diakui oleh Kedutaan Jerman di Jakarta. |
| |
|
| 4. |
Paspor+Visa.
Untuk bisa menempuh pendidikan di Jerman, seorang calon diwajibkan
memiliki Student Visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Jerman
di Jakarta. Jangan sekali-kali datang dengan menggunakan Tourist
Visa, karena dengan visa ini tidak akan bisa dikonversi menjadi
visa ijin tinggal. |
| |
|
| 5. |
Uang Jaminan.
Untuk bisa mendapatkan Visa di Keditaan Jerman di Jakarta, seorang
calon mahasiswa diminta menyiapkan Uang Jaminan di Bank (di
Indonesia) yang akan ditransfer setiap bulan ke Jerman untuk
biaya hidup. Jumlah uang jaminan berbeda-beda tegantung tujuan
studi masing-masing calon, tetapi jumlah minimal untuk hidup
satu tahun sekitar 6000 Euro. (Confirm ke kedutaan Jerman
di Jakarta!) |
| |
|
| 6. |
Biaya Lainnya. Selain
Uang Jaminan, calon mahasiswa juga harus menyiapkan keperluan
lainnya seperti biaya pembuatan visa, biaya ticket dll. |
| |
|
| Selain poin
1) – 5) sebagaimana telah disebutkan diatas, setiap calon
mahasiswa harus sadar betul bahwa sistem pendidikan dan kehidupan
di Jerman sangat jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.
Untuk itu, setiap calon harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya
untuk menghadapi culture shock khususnya pada tahun-tahun pertama
di Jerman. Tidak jarang dijumpai adanya calon mahasiswa yang
hanya bertahan 2 – 3 bulan karena tidak sanggup menghadapi
hal ini. Beberapa gambaran kecil bias digambarkan disini,
diantaranya: |
| |
| a) |
Pendidikan
di Jerman dicirikan dengan kemandiriannya yang luar biasa. Guru
dan dosen tidak akan memaksa siswa untuk melakukan ini-itu,
tetapi siswa sendiri lah yang harus aktif memutuskan sendiri
apa yang akan dilakukan. |
| |
|
| b) |
Di Jerman
setiap orang harus melakukan segala sesuatunya sendiri, dan
tidak bisa menggantungkan ke orang lain. Mulai dari masak, cuci
piring dan baju dll semua harus dilakukan sendiri. |
| |
|
| c) |
Selama sekolah
di Jerman, kita akan dipaksa banyak jalan kaki. Perjalanan dari
rumah ke stasiun kereta atau bus, juga dari satu gedung ke gedung
kampus lainnya. Bagi yang terbiasa naik mobil-motor atau yang
terbiasa kemana-mana diantar sopir, kondisi ini bisa terasa
cukup berat |
| |
|
| Informasi
Khusus bagi lulusan SLTA |
| |
| Bagi lulusan
SLTA di Indonesia akan diwajibkan untuk mengikuti jenjang Studienkolleg
terlebih dahulu (Lihat Studienkolleg).
Untuk bisa mengikuti program Studienkolleg, seorang calon
diwajibkan memiliki Student Visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan
Besar Jerman di Jakarta. Jangan sekali-kali datang dengan
menggunakan Tourist Visa, karena dengan visa ini tidak akan
bisa dikonversi menjadi visa ijin tinggal. Selain itu disyaratkan
pula kemampuan berbahasa Jerman minimal pada level Mittelstufe
2. Persyaratan selengkapnya bisa dilihat di Persyaratan Studienkolleg.
Secara umum pendaftaran Studienkolleg ditutup tanggal 15
Juli untuk periode musim dingin (WS) atau tanggal
15 Januari untuk periode musim panas (SS).
Akan tetapi ada beberapa Universitas yang memberlakukan jadwal
khusus diantaranya: |
| |
| FU Berlin |
15 April dan 15 Oktober |
| Uni Aachen, Bochum, Köln, Bonn dan Münster |
15 Mei dan 31 Oktober |
| Uni Hamburg |
31 Maret dan 30 September |
| Uni Kaiserslautern, Mainz dan Saarbrücken |
30 April dan 31 Oktober |
|
| |
| Pemilan Studienkolleg
sangat tergantung dari jurusan dan UNI atau FH yang akan dipilih
nantinya. Bagi yang akan meneruskan ke Universitas, maka ia
harus mengambil studienkolleg di UNI, sedangkan bagi yang akan
meneruskan ke Fachhochschule, maka ia bisa mengambil Studienkolleg
dimana saja. Informasi selengkapnya bisa dilihat di Studienkolleg. |
| |
| Memilih
UNI atau FH serta Jurusan |
| |
| Yang seringkali
menjadi permasalahan adalah memilih antara UNI dan FH. Banyak
calon mahasiswa yang masih bingung diantara keduanya, dan akhirnya
memilih hanya mengikuti teman-temannya. Demikian juga dengan
proses pemilihan jurusan. Hal ini seyogyanya dihindari karena
sebenarnya setiap orang memiliki bakat dan kemampuan sendiri-sendiri.
Kuliah di UNI akan banyak teori (60%) dan hanya sedikit praktek
(40%). Sebaliknya kuliah di FH akan lebih banyak praktek (60%)
dibandingkan teori (40%). Sering ada kasus seseorang memaksakan
diri masuk ke UNI, padahal setelah beberapa waktu disadari
bahwa ia tidak suka dengan teori-teori. Pada akhirnya ia minta
pindah ke FH dan tentu saja ia kehilangan banyak waktu untuk
itu.
Sebaliknya, banyak pula mahasiswa yang memilih jurusan karena
ikut-ikutan atau karena jurusan tersebut punya nama yang mentereng.
Hal demikian juga sangat berbahaya. Kuliah akan makan waktu
bertahun-tahun, sehingga kalau seseorang tidak menikmati,
maka hasilnya tidak akan maksimal atau bahkan terpaksa gagal
di tengah jalan.
Oleh karena itu setiap calon mahasiswa harus memperhatikan
benar-benar kemana minat, bakat dan kemampuannya, sehingga
tidak timbul penyesalan di belakang hari. |
| |
| Informasi
Khusus bagi Lulusan S1 |
| |
| Bagi lulusan
Sarjana dari Indonesia, beberapa informasi berikut sangat penting
untuk diperhatikan, siantaranya: |
| |
| 1. |
Persyaratan
Bahasa. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi
sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa
Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman
tidak bisa ditinggalkan. Kalaupun seseorang akan mengambil program
berbahasa Inggris, tetap saja kepadanya sangat dianjurkan untuk
menguasai Bahasa Jerman, paling tidak untuk komunikasi sehari-hari.
Tanpa penguasaan Bahasa Jerman yang memadai, kehidupan sehari-hari
akan terasa sulit dan dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasi
belajar nantinya. |
| |
|
| 2. |
Proses
Annerkennung. Annerkennung adalah proses persamaan
Ijazah Indonesia dengan Jerman. Tidak ada patokan pasti untuk
itu, karena setiap universitas memiliki otonomi dan kewenangan
sendiri-sendiri. Hasilnya akan sangat tergantung dari universitas
asal tempat ia memperoleh gelar kesarjanaan dan universitas
mana yang akan ia tuju untuk melanjutkan belajar. Akan tetapi
biasanya sarjana S1 Indonesia akan disetarakan dengan Vordiplom
Jerman, dan kepadanya langsung bisa mengikuti pendidikan Diplom
mulai semester 5 atau 6. Beberapa universitas Jerman bahkan
memberikan kesempatan kepada sang calon untuk mengikuti 2-3
mata ujian dan kalau lulus langsung disetarakan dengan Diplom
Jerman. |
| |
|
| 3. |
Memilih
Diplom atau Master. Bagi calon mahasiswa yang telah
memiliki gelar S1 dari Indonesia, maka kepadanya ada pilihan
untuk memilih Diplom (Program Klasik) atau Master (Program Baru).
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Program
Diplom sampai saat ini diyakini lebih baik oleh mayoritas
orang Jerman, karena sejarahnya yang telah lama dan teruji.
Oleh karenanya bagi mereka yang nantinya ingin bekerja di
Jerman, maka pilihan Diplom barangkali lebih cocok. Akan tetapi
bagi yang ingin kembali ke tanah air program Diplom barangkali
tidak terlalu cocok. Oleh Pemerintah Indonesia (DIKTI) gelar
Diplom tidak disetarakan dengan Master, tetapi lebih rendah
dari itu. Diplom UNI disetarakan dengan S1+ sedangkan Diplom
FH disetarakan dengan DIV. Hal ini tentu tidak terlalu nyaman,
karena setelah menempun pendidikan lanjutan selama 3 tahunan,
gelar Diplom yang diperoleh masih saja setara dengan sarjana
Indonesia. Selain itu program Diplom 100% masih menggunakan
Bahasa Jerman sehingga tingkat kesulitan bahasa bisa dikatakan
sangat tingi.
Sebaliknya Program Master adalah program baru yang akan diterapkan
penuh mulai tahun 2010 (lihat Jenjang Pendidikan Bachelor-Master!).
Oleh karenanya, ke depan nanti program inilah yang akan lebih
diperhatikan. Selain itu masih ada pula kelebihan lain dari
Program Master (dibanding Diplom), diantaranya: |
| |
|
| |
1. |
Sarjana S1 Indonesia
disetarakan dengan Bachelor dari Negara lainnya, sehingga bias
langsung masuk ke jenjang Master. Oleh karenanya, dalam 2 tahun
gelar Master sudah bias diperoleh. |
| |
|
|
| |
2. |
Gelar Master Jerman bisa
langsung disetarakan dengan Magister (S2) Indonesia. |
| |
|
|
| |
3. |
Banyak program Master
di Jerman yang diberikan dalam Bahasa Inggris, atau minimal
kombinasi antara Bahasa Inggris dan Jerman, sehingga kesulitan
bahasa bisa dikatakan lebih kecil. |
| |
|
|
| |
4. |
Lulusan Master (khususnya
dari UNI) juga bisa langsung melanjutkan ke jenjang doktor di
Jerman sebagaimana lulusan Diplom. Selain itu, lulusan Master
juga bisa melanjutkan ke program doktor di Indonesia maupun
Negara-negara lainnya di seluruh dunia. |
| |
|
|
| Oleh karena
itu bagi mereka-mereka yang ingin pulang ke tanah air setelah
lulus atau ingin terus melanjutkan studi ke jenjang doktor,
barangkali program Master ini lebih disarankan. |
| |
| Informasi
bagi Lulusan S2 yang akan melanjutkan ke Program Doktor |
| |
| Bagi lulusan
Magister (S2) Indonesia yang akan melanjutkan program Doktor,
informasi-informasi penting berikut barangkali bisa sangat membantu: |
| |
| 1. |
Persyaratan
Bahasa. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi
sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa
Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman
tidak bisa ditinggalkan. Disertasi doktor di banyak universitas
bisa ditulis dalam Bahasa Inggris, tetapi ada beberapa yang
masih mensyaratkan dalam Bahasa Jerman. Selain itu, banyak pula
professor yang lebih senang kalau doktorandnya menulis disertasi
dalam Bahasa Jerman, karena proses pembimbingan dan koreksi
disertasi bisa berjalan lebih baik. Selain itu, di semua institut
dilaksanakan seminar secara reguler dan sebagian besar presentasi
disajikan dalam Bahasa Jerman. Oleh karena itu, kemampuan Bahasa
Jerman mutlak diperlukan untuk bisa mengikuti jalannya seminar. |
| |
|
| 2. |
Proses
Annerkennung. Annerkennung adalah proses persamaan
Ijazah Indonesia dengan Jerman. Tidak ada patokan pasti untuk
itu, karena setiap universitas memiliki otonomi dan kewenangan
sendiri-sendiri. Hasilnya akan sangat tergantung dari universitas
asal tempat ia memperoleh gelar kesarjanaan dan universitas
mana yang akan ia tuju untuk melanjutkan belajar. Dalam banyak
kasus sarjana S2 Indonesia telah disetarakan dengan Diplom Jerman
sehingga bisa langsung lanjut ke program doktor. Akan tetapi
banyak pula universitas yang mensyaratkan pemegang gelar S2
dari Indonesia untuk mengikuti proses Annerkennung dengan mengikuti
2-3 mata ujian dan kalau lulus langsung baru bisa melanjutkan
ke program Doktor. Bagi mereka-mereka yang gelar S1 dan S2-nya
diperoleh dari jurusan yang berbeda, maka proses Annerkennung
akan menjadi jauh lebih rumit dan makan waktu. Beberapa calon
mahasiswa akhirnya tidak sabar dan memilih mengundurkan diri
dan melanjutkan program doktor di negara lain.Dalam kaitan dengan
penyetaraan Ijazah S2 ini, telah ada penjanjian informal antara
pemerintah Jerman dan Indonesia pada tahun 1992. Akan tetapi
penjanjian ini memang tidak mengatur secara tegas akan hal ini,
dan keputusan akhirnya diserahkan ke universitas masing-masing. |
| |
|
| 3. |
Program
Doktor Jerman dan Indonesia. Ada perbedaan mendasar
antara pendidikan doktor di Jerman dan di Indonesia. Di Indonesia
pendidikan doktor pada umumnya dimulai dengan proses perkuliahan
selama 3-4 semester dan setelah itu mahasiswa diwajibkan menempuh
ujian prelim. Setelah lulus prelim barulah mahasiswa
ulai melakukan penelitian untuk disertasinya. Sebaliknya, pendidikan
doktor di Jerman tidak mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti
perkuliahan secara regular tetapi langsung melakukan penelitian.
Penelitian telah bisa dilakukan sejak dia terdaftar sebagai
mahasiswa program doktor. Mahasiswa pun dipersilahkan untuk
mengikuti perkuliahan apa saja dan dimana saja sesuai dengan
kebutuhannya. Bisa saja seorang mahasiswa mengambil perkuliahan
di universitas lain atau bahkan di Negara lain. |
| |
|
| 4. |
Tips
Memilih Universitas. Di Mata orang-orang Indonesia,
nama RWTH Aachen sangat terkenal dan dianggap paling baik. Akan
tetapi hal ini tidak sepenuhnya benar dan lebih dikarenakan
oleh figure Prof. B.J. Habibie yang memang lulusan dari Aachen.
Perlu diketahui bahwa hampir semua universitas di Jerman
adalah Universitas Negeri yang dijamin oleh pemerintah, sehingga
kualitas antar perguruan tinggi bisa dikatakan sangat merata.
Keunggulan suatu institusi tidak tergantung oleh universitasnya,
tetapi lebih ditentukan oleh Jurusan (Lehrstuhl) beserta professor
dan para stafnya. Kualitas tiap-tiap jurusan bisa dilihat
dari publikasi masing-masing. Semakin banyak publikasi, maka
kualitasnya akan semakin bagus. Selain itu, majalah Stern
bekerjasama dengan Centrum für Hochschulentwicklung (CHE)
juga menyelenggarakan survei untuk menentukan peringkat Universitas
setiap tahun dan hasilnya bisa dilihat di www.che.de.
Selain itu ada kepercayaan yang diyakini oleh sebagian orang
bahwa universitas di wilayah selatan lebih hebat dan karenanya
lebih sulit untuk masuk kesana. Hal ini juga sama sekali tidak
benar. Fakta menunjukkan bahwa baik di wilayah selatan maupun
utara banyak universitas yang masuk peringkat utama. Banyak
pula doktorand asal Indonesia yang lebih mudah masuk ke dan
lulus dari universitas bagian selatan dibandingkan dengan
universitas bagian utara. |
| |
|
| 5. |
Mencari
kontak Professor. Untuk memilih institusi dan professor
calon pembimbing, sangat disarankan setiap calon mahasiswa untuk
memanfaatkan fasilitas internet. Semua informasi terkini dari
tiap-tiap institusi selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.
Selain itu, sangat disarankan untuk memilih pembimbing yang
pernah membimbing orang Indonesia (atau mnimal orang asing)
karena biasanya mereka lebih bisa mengerti kesulitan-kesulitan
mahasiswa asing. Karena itu, menjalin kontak dengan doktorand
Indonesian yang ada di Jerman atau dengan alumni-alumni Jerman
juga sangat dianjurkan. |
| |
|
| 6. |
Apa
dan bagaimana menulis disertasi. Menulis disertasi
bukanlah pekerjaan yang mudah, karena disertasi haruslah memberikan
kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Ada dua aliran
yang utama yang menjelaskan apa sebenarnya disertasi. Pertama,
penelitian disertasi adalah merupakan penelitian yang “big
bang” dan seyogyanya menghasilkan sesuatu yang fenomental.
Akan tetapi pada kenyataannya hanya sedikit sekali disertasi
yang menghasilkan sesuatu yang sangat fenomental. Kedua,
yang banyak dijumpai pada sebagian disertasi yang ada, penelitian
disertasi adalah kumpulan dari tiga sampai empat penelitian
dalam satu kesatuan, yang masing-masing bisa menghasilkan
artkel setara satu paper pada journal ilmiah. Oleh karenanya,
satu disertasi kira-kira setara dengan 3 – 4 paper journal
yang kemudian digabungkan satu sama lain menjadi satu kesatuan
(Cek ke buku "How to get a PhD").
Perkembangan dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa aliran
kedua lah yang lebih berkembang di masyarakat ilmuah. Karenanya,
pendidikan doktor adalah jenjang pendidikan untuk melatih
seseorang sehingga ia siap masuk ke dunia riset.
Untuk bisa menulis disertasi, tahap pertama seseorang harus
memutuskan dulu pada thema mana ia akan bekerja. Tahapan ini
adalah tahapan yang sangat crusial, karena disini seseorang
harus bisa merumuskan permasalahan yang akan dipecahkan, serta
menemukan metodologi terbaik yang cocok digunakan. Keberhasilan
pada tahap ini akan sangat penting bagi tahapan-tahapan selanjutnya,
karena apabila semua ini telah bisa diformulasikan, maka pada
hakekatnya 40% penelitian disertasi telah bisa diselesaikan. |
| |
|
| 7. |
Publikasi.
Selama menempuh program doktor, semua mahasiswa diwajibkan untuk
mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya melalui berbagai media.
Publikasi yang rutin dilakukan adalah seminar di lingkungan
sendiri dengan melakukan presentasi rutin tiap semester. Dalam
kesempatan ini, mahasiswa akan mendapatkan masukan-masukan dari
professor-professor, asisten professor serta doktorand lain
dalam satu institute. Selain itu sangat disarankan pula kepada
setiap doktorand untuk mempublikasikannya dalam konferensi-konferensi
nasional dan internasional maupun mempublikasikannya di journal-journal
ilmiah. Publikasi pada konferensi serta journal internasional
memang tidak diharuskan, tetapi hal ini akan sangat membantu
dalam proses kelulusan nantinya. Jika seseorang telah banyak
menyajikan makalahnya dalam konferensi internasional atau mempublikasikan
papernya di journal ilmiah, maka ia akan memperoleh nilai lebih
sehingga proses kelulusan akan jauh lebih mudah. |
| |
|
| Mitos-mitos
tentang Studi di Jerman |
| |
| Berkaitan
dengan studi di Jerman, banyak orang meyakini mitos-mitos tertentu
yang cenderung menyesatkan. Beberapa diantara mitos-mitos tersebut
diantaranya: |
| |
| 1. |
Hidup
di Jerman serba enak dan mudah. Hal ini tidak selamanya
benar. Memang benar bahwa Jerman adalah negara maju yang hidupnya
serba makmur dan teratur. Akan tetapi tidak berarti bahwa mahasiswa
hidup enak-enak. Disini mahasiswa justru dituntut untuk bekerja
keras dan mandiri. Hal ini bisa sangat berat, khususnya bagi
calon mahasiswa yang terbiasa hidup serba enak di Indonesia.
Tidak ada lagi supir dan pembantu yang siap mengerjakan apa
yang kita minta. Tidak ada lagi mobil serta fasilitas lainnya
yang selama di Indonesia barangkali dengan mudah bisa didapatkan.
Benar bahwa kuliah di Jerman serba bebas, akan tetapi kebebasan
ini juga bisa berakibat fatal bila mahasiswa tidak bisa mendisiplinkan
diri sendiri. |
| |
|
| 2. |
Kuliah
di Jerman Gratis. Ini juga tidak selamanya benar. Benar
bahwa kuliah di Jerman sangat murah. Di Berlin-Brandenburg misalnya,
mahasiswa hanya membayar sekitar 150 – 200 Euro (sekitar
Rp 1,5 sampai Rp 2 juta) per semester. Ini pun sudah termasuk
biaya transportasi (semester ticket) yang bisa dpakai untuk
naik bis, kereta, U-Bahn, S-Bahn serta Tram selama satu semester
penuh. Kuliah di PTN di Indonesia bisa jadi biayanya jauh lebih
mahal. Akan tetapi bagi mereka yang melewati batas waktu yang
ditetapkan, maka mahasiswa akan diminta membayar biaya kuliah
antara 500 – 1000 Euro. Selain itu saat ini sedang
ada diskusi publik tentang perlu tidaknya menarik uang kuliah
dari mahasiswa. Sampai saat ini keputusan belum ada, tetapi
nampaknya kecenderungan mahasiswa akan diminta membayar biaya
kuliah meskipun tidak terlalu besar. |
| |
|
| 3. |
Kuliah
bisa sambil Kerja. Benar semua mahasiswa di Jerman
(termasuk mahasiswa asing) diijinkan untuk bekerja selama 3
bulan dalam setahun. Dengan bekerja 3 bulan dalam setahun, pengalaman
menunjukkan bahwa hasilnya sudah bisa dipakai untuk mencukupi
biaya hidup minimal selama setahun. Akan tetapi bekerja sambil
kuliah menyimpan persoalan yang sangat besar. Seringkali mahasiswa
terlena karena mendapatkan uang yang cukup besar (apalagi
kalau dinilai dalam rupiah!) dan cenderung menomerduakan kuliah.
Akibatnya kuliah tertunda-tunda dan tanpa terasa waktu kuliah
telah habis. Kalau ini terjadi, maka ancamannya adalah terpaksa
pulang tanpa gelar karena ijin tinggal sudah habis dan tidak
bisa diperpanjang lagi. Kalau belajar dinomerduakan, bisa
jadi mahasiswa gagal ujian 3 kali pada mata kuliah yang sama.
Kalau ini terjadi, secara otomatis ia akan dikeluarkan (DO)
tanpa bisa pindah kemanapun di seluruh Jerman. |
| |
|
| 4. |
Kuliah
di Jerman sulit dan makan waktu lama. Pandangan ini
juga tidak benar dan cenderung menyesatkan. Pada kenyataannya
banyak mahasiswa Indonesia yang berprestasi sangat bagus dan
mampu menyelesaikan studinya dalam waktu singkat. Bahkan banyak
diantaranya yang langsung mendapatkan kesempatan untuk mengambil
program doktor atau langsung bekerja di Jerman. Sebaliknya,
banyak pula yang terkatung-katung dan bahkan gagal di dalam
studinya. Beberapa alasan utama kegagalan tersebut diantaranya: |
| |
|
| |
|
Ketidakcocokan
tempat studi. Bisa jadi sang mahasiswa salah dalam
memilih UNI atau FH, atau salah memilih jurusan. Ini banyak
dialami oleh mereka-mereka yang memilih hanya sekedar ikut-ikutan.
Untuk itu, setiap mahasiswa hendaknya memilih jurusan sesuai
dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. |
| |
|
|
| |
|
Terlena karena sibuk
bekerja. Banyak mahasiswa yang terlalu banyak
bekerja karena berbagai alasan, sehingga kuliahnya terbengkalai.
Bekerja tentu saja boleh untuk meringankan beban keluarga di
Indonesia. Akan tetapi menomorduakan kuliah tentu tidak boleh
terjadi. Bagaimanapun sejak awal mahasiswa berkeinginan untuk
sekolah, sehingga kuliah tetaplah harus menjadi tujuan utama. |
| |
|
|
| |
|
Kesulitan Bahasa.
Penguasaan Bahasa Jerman sangat mempengaruhi keberhasilan seorang
mahasiswa, khususnya untuk jenjang Diplom. Tanpa menguasai bahasa
dengan baik, akan sangat sulit bagi mahasiswa untuk bisa berprestasi
maksimal. Ia akan kesulitan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya
walaupun ia sebenarnya tahu tentang itu. Ia juga akan sulit
mengerjakan tugas-tugas hariannya. Karenanya, penguasaan bahasa
harus benar-benar diusahakan. |
| |
|
|
| |
|
Persoalan Pribadi.
Persoalan pribadi juga memegang peran sangat penting. Banyak
sekali yang terkait dengan hal ini, diantaranya masalah keuangan,
masalah keluarga dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitar. Untuk mengatasi masalah pribadi, seyogyanya
setiap mahasiswa Indonesia tetap menjalin kontak yang baik dengan
mahasiswa Indonesia lainnya. Dalam banyak kasus, keberadaan
teman untuk bertukar pikiran akan sangat meringankan beban yang
dihadapi. Akan tetapi tidak bijaksana pula kalau seseorang hanya
bergaul dengan orang Indonesia saja, karena dengan demikian
kemampuan bahasanya tidak akan pernah berkembang. |
| |
|
|
| 5. |
UNI
dan FH, mana yang lebih baik? Sebagian orang menganggap
UNI lebih baik dan sebagian lainnya menganggap FH lebih baik.
Alumni UNI akan cenderung mengatakan bahwa UNI lebih baik, sedangkan
alumni FH akan cenderung mengatakan bahwa FH lebih baik. Hal
ini sepenuhnya bisa dimengerti karena mereka dididik disana
dan mengetahui lebih banyak tentang institusinya. Akan tetapi
pilihan terbaik antara UNI dan FH akan sangat tergantung pada
bakat, minat dan kemampuan serta jenis pekerjaan yang diminati
oleh individu masing-masing. |
| |
|
| |
|