| Oleh sebab kemunculan
indonesia sebagai sebuah negara kepulauan di mana penduduknya
meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, akan tetapi terpisah
oleh lautan yang memutus hubungan mereka, hal ini telah menyebabkan
perkembangan budaya yang beragam, termasuk bahasa dan pertumbuhan
yang menyebabkan terjadi perbedaan-perbedaan sekarang.
Meskipun demikian, populasi di Indonesia telah diklasifikasi
ulang, tidak terlalu merujuk asal suku mereka, tetapi lebih
merujuk ke identitas bahasa mereka disebabkan oleh perbedaan
yang disebutkan sebelumnya, ke dalam empat kelompok suku.
Pengelompokan yang merujuk suku asal sangat sulit untuk direalisasikan
terkait pernikahan antara suku yang terjadi di antara mereka.
Ke empat kelompok suku tersebut adalah Melanesia (campurean
antara sub-mongoloid dan wajak), Proto-Austronesian (termasuk
wajak), Polynesia dan Micronesia.
Kelompok melanesia ini dikelompokkan lagi ke aceh di sumatera
utara, batak di sumatera tenggara, minangkabau di sumatera
barat, sunda di jawa barat, jawa di jawa tengah dan timur,
madura di pulau madura, bali, sasak di pulau lombok, timor
di pulau timor. Di pulau kalimantan terdapat dayak. Di pulau
sulawesi bagian utara terdapat minahasa di bagian tengah terdapat
toraja, dan di bagian selatan terdapat makasar dan bugis.
Suku ambon di maluku dan irian di papua tergolong polynesia
dan proto-austronesia. Micronesia terdapat di pulau-pulau
kecil pada perbatasan timur Indonesia.
Populasi Indonesia berkisar 210 juta, populasi terbesar ke
empat setelah cina, india dan amerika serikat. Salah satu
masalah terbesar saat ini adalah tidak meratanya penyebaran
penduduk. Sebagai contoh, sekitar 62 % penduduk hidup di pulau
jawa, yang lahan tersebut hanya merupakan 7 % dari keseluruhan
wilayah negara.
Penghuni pertama Indonesia tercatat 500,000 tahun yang lalu,
bernama pithecanthropus erectus oleh eugene dubois yang menemukan
fosil-fosil tersebut di beberapa tempat di pulau jawa dan
berdekatan dengan sungai bengawan solo. Fosil tersebut ditemukan
pada tahun 1891 dan tahun 1892 di desa trinil, dinamakan homo
soloensis, karena ditemukan di wajakkensis. Homo soloensis
dengan karakteristik yang mirip dengan masyarakat austro melanosoid
telah menjelajah ke barat (sumatera) dan timur (papua).
Pada masa 3000-500 sebelum masehi, Indonesia telah dihuni
oleh penduduk migran sub-mongoloid dari asia yang dikemudian
hari menikah dengan penduduk indigenous. Pada 1000 sebelum
masehi, pernikahan silang masih terjadi dengan penduduk migran
indo-arian dari asia-selatan, sub kontinen India. Gelombang
masuk pendatang dari india hingga abad ke tujuh masehi membawa
penyebaran agama hindu ke seluruh kepulauan.
Pedagang muslim dari gujarat dan persia mulai mengunjungi
Indonesia pada abad ke 13 dan membuat hubungan perdagangan
antara negara ini dengan india dan persia. Bersamaan dengan
berdagang, penduduk gujarat dan arab juga menyebarkan agama
Islam di wilayah tersebut. Yang pertama menerima agama islam
adalah kerajaan-kerajaan pesisir pantai, yang sebelumnya memeluk
hindu.
Di Aceh, Islam diterima secara luas oleh masyarakat dengan
kerajaan pasai dan perlak menjadi kerajaan muslim pertama
di nusantara. Pertama diterima oleh lingkaran pengadilan,
Islam menemukan jalan masuk ke komunitas pada babak selanjutnya.
Terutakam di Jawa, “wali songo” telah memainkan
peran yang sangat penting.
Di tahun 1511, portugis tiba di Indonesia. Kedatangan portugis
dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat eropa terhadap rempah-rempah.
Kedatangan mereka diikuti spanyol, belanda dan inggris. Disamping
mencari rempah-rempah, mereka juga mempropagandakan agama
kristen. Dalam persaingan tersebut, Belanda berhasil melakukan
perdagangan monopoli terhadap rempah-rempah di seluruh nusantara,
hal tersebut merupakan awal dari 350 tahun kolonialisme Belanda
di seluruh nusantara.
Pada masa sebelum kemerdekaan, komunitas Indonesia memiliki
masyarakat pesisir yang beragam. Masing-masing kelompok terikat
satu dengan lainnya oleh rasa solidaritas dan identitas terhadap
akar tanah, bahasa, seni, kultur dan kesamaan lainnya di antara
mereka.
Ada terdapat lebih 500 kelompok suku di Indonesia tersebar
dari sabang (batas paling ujung sumatera) hingga merauke di
papua. Komunitas Jawa merupakan jumlah tersebar dari total
penduduk Indonesia, diikuti oleh sunda, madura, minangkabau,
bugis, batak dan bali. Kelompok suku lainnya adalah ambon,
dayak, sasak, aceh dll. Terpisah dari komunitas asli, komunitas
lainnya keturunan asing adalah china, arab dan india.
Bahasa dan dialek dipakai dalam percakapan dan tulisan di
seluruh kepulauan Indonesia, 150 hingga 250 bahasa, lazimnya
dikelompokkan menurut kelompok suku yang disebut di atas.
Bahasa lokal utama di Indonesia antara lain adalah: aceh,
batak, sunda, jawa, sasak, tetum timor, dayak, minahasa, toraja,
bugis, halmahera, ambon, cirame, beberapa bahasa irian dan
bahasa-bahasa lainnya. Di antara bahasa-bahasa tersebut terdapat
banyak dialek yang berbeda.
Bahasa nasional Indonesia diperkenalkan secara resmi sejak
kemerdekaan Indonesia dan bernama BAHASA INDONESIA. Lexikon
dan struktur bahasa tersebut secara pokok berdasarkan ke bahasa
melayu yang diperkaya oleh lexikon berbagai bahasa dan dialek
yang dimiliki Indonesia. Meskipun bahasa Indonesia dikenal
sebagai bahasa pemersatu, bahasa daerah yang ada juga setara
dan tidak ada usaha dan niat untuk menghapuskan bahasa-bahasa
daerah dan dialeknya. Oleh karena itu, bagian terbesar dari
negara indonesia adalah bahasa.
Pada agustus 1973, Indonesia dan malaysia menandatangani
sebuah kesepakatan kebudayaan mengenai ejaan Bahasa Persatuan
di Malaysia dan Bahasa Indonesia di Indonesia yang memiliki
kemiripan.
Selain keragaman suku, berbagai agama dan kepercayaan dapat
ditemukan di Indonesia. Satu dari karakteristik khusus kebudayaan
Indonesia adalah penghargaan tinggi terhadap komunitas lewat
agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Terdapat lima agama, yang secara resmi diakui di Indonesia,
mereka adalah Islam, Katholik, Protestan, Hindu dan Budha.
Selain hal tersebut, keyakinan lain juga ditemukan, terutama
dalam kelompok terisolir, yang diakui dan dinamakan kepercayaan
tradisional. Menurut statistik, mayoritas penduduk Indonesia
adalah muslim.
Undang undang dasar 1945 republik Indonesia, pasal 29 ayat
2 menjamin kemerdekaan beragama. Setiap warga negara Indonesia
memiliki hak menganut agama yang dipilihnya dan tanpa ada
diskriminasi agama. Setiap warga negara harus menghormati
dan bertoleransi terhadap kepercayaan masing-masing sementara
berbagai bentuk program anti agama harus dihukum dan dilarang.
Indonesia kaya akan seni dan budaya yang saling dipengaruhi
oleh agama dan tradisi kuno sejak zaman kedatangan barat dengan
ajaran barat dan nilau budaya yang dibawa oleh pedagang portugis
dan kolonial belanda. Ajaran dasar yang menjadi acuan kehidupan,
memasukkan konsep gotong royong dan musyawarah mencapai mufakat.
Berasal dari kehidupan pinggiran, kebiasaan atau hukum adat
ini masih eksis dalam komunitas kehidupan perkotaan, berbeda
dari satu daerah ke daerah lain.
Pengaruh agama dalam komunitas berbeda dari satu pulau ke
pulau lainnya. Tidak seperti negara lainnya, jenis kesenian
di Indonesia tidak hanya berbasis cerita rakyat, banyak dari
kesenian tersebut yang berkembang dalam lingkup kerajaan-kerjaan
terdahulu seperti di Bali dan Jawa, dimana terdapat beberapa
bagian seremoni keagamaan.
Tarian drama terkenal jawa dan bali adalah turunan dari mitologi
hindu. Dipenuhi dengan hiasan serta gaya dalam gerakan dan
kostum, tarian dan drama wayang ditemani oleh sebuah kelompok
musik gamelan yang memadu xylophones, drum, instrumen dawai
dan tiup. Alat musik bambu dari jawa barat yang disebut angklung
dimainkan bersamaan dengan pargelaran wayang oleh dayang di
bali tirai putih, di mana bayangan dari karakter dapat terlihat
di sisi lain layar, tempat penonton duduk.
Kerajinan Indonesia bervariasi dalam bentuk dan seni. Masyarakat
menemukan seni oleh alam dan mewujudkan ide-idenyam inspirasi
dan pelajarannya di atas kayu, besi, tanah lempung, pakaian
dan batu. Batik adalah pakaian celupan dan ukiran lilin terkenal
dari jawa, diproduksi juga di daerah lainnnya seperti Bali,
Jambi dan Madura yang beragam dalam mewakili kreativitas dan
warna kedaerahannya. Provinsi lainnya memproduksi pakaian
anyamana tangan dipadu dengan emas dan perak, sutra atau katun
dengan disain yang rumit, seperti di Lampung, Palembang, Makasar
dan Nusa Tenggara Barat.
|