31 Juli 2008
PRESIDEN MEMBUKA KONFERENSI ICIS III
Bertepatan dengan perayaan Isra Mi’raj,
Rabu (30/7) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka
International Conference of Islamic Scholars (ICIS) III di
Hotel Borobudur, Jakarta. Konferensi yang diselenggarakan
hingga tanggal 1 Agustus 2008 ini, mengangkat tema “Uphold
Islam as Rahmatan Lil Alamin: Peace and Conflict Prevention
in the World”.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an
yang dibacakan oleh Djunaidin Idris, dilanjutkan sambutan
Sekretaris Jenderal ICIS Hasyim Musyadi dan Keynote Lecture
yang disampaikan oleh Presiden SBY.
Dalam sambutannya, Hasyim Muzadi, mengemukakan
bahwa ICIS III merupakan tindak lanjut ICIS II di Jakarta
pada 20-22 Juni 2006, dan ICIS I yang diselenggarakan di Jakarta
pula pada 23-25 Februari 2004. ICIS II menghasilkan 37 rencana
aksi dalam rekomendasi yang ditujukan pada PBB, OKI, negara-negara
Islam, negara peserta ICIS serta para pemimpin Islam. ICIS
II diikuti 320 peserta dari 53 negara, termasuk Utusan Paus
Benediktus XVI, Khalid Akasheh.
Sedangkan ICIS III kali ini, mengundang para
ulama dan cendekiawan muslim sedunia, berjumlah sekitar 350
orang peserta dari 70 negara. Dengan para pembicara dari luar
negeri sebanyak 53 orang, dan dari Indonesia sendiri sebanyak
21 orang. Diantaranya adalah PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi
serta Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan.”ICIS III akan membahas
mengenai konflik di dunia Islam, baik di internal umat Islam
maupun yang berhubungan dengan masyarakat global. Selain itu,
setiap peserta diharapkan dapat membantu upaya perbaikan citra
Islam dan kemampuan umat Islam dalam menghadapi tantangan
dan persaingan global,” Hasyim Muzadi menjelaskan.
Presiden SBY mengatakan, sudah terlalu banyak
perhatian dan energi yang dikeluarkan untuk menyelesaikan
konflik, namun konflik-konflik tersebut terus berlanjut dan
tidak dapat dicegah. ”Sesungguhnya, mencegah konflik
merupakan hal yang lebih baik jika dibandingkan dengan mengobati
konflik yang sudah terjadi. Karena, mencegah terjadinya konflik
juga mencegah jatuhnya korban jiwa, energi politik dan sumber
daya ekonomi,” kata Presiden SBY.
Mencegah konflik membutuhkan kemampuan untuk
mendeteksi potensi terjadinya konflik. Selain itu, juga diperlukan
pengertian terhadap dinamika konflik yang terjadi. ”Dan
seperti resolusi konflik, pencegaha konflik juga membutuhkan
keahlian untuk mencari cara baru untuk menurunkan tensi, mencegah
perpecahan dan juga mencari waktu yang tepat. Waktu untuk
intervensi, pencegahan dan melancarkan aksi,” ujar SBY.
Dan yang paling penting, pencegahan konflik membutuhkan
kepemimpinan. ”Dan kepemimpinan ini dapat berasal dari
siapapun. Pemimpin politik, pemimpin informal, pemimpin komunitas,
pemimpin agama, tergantung dari konflik yang sedang terjadi,”
terang Presiden kepada seluruh peserta yang hadir dalam acara
yang bertemakan “Uphold Islam as Rahmatan Lil Alamin:
Peace and Conflict Prevention in the World”.
Tetapi, lanjut SBY, kita harus selalu ingat,
bahwa setiap konflik memiliki permasalahannya masing-masing.
”Setiap konflik memiliki dinamika dan kepribadian tersendiri,
dan harus diperlakukan sesuai dengan dinamika yang berlaku.
Saya juga percaya bahwa seberapapun lama dan rumitnya sebuah
konflik, pasti akan dapat dicari solusinya,” ungkap
SBY.
Oleh karena itu, Presiden SBY berharap konferensi
ini dapat dijadikan kesempatan untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah
di seluruh dunia. ”Selain Ukhuwah Islamiyah, konferensi
ini j uga dapat dijadikan kesempatan untuk memformulasikan
cara-cara praktis untuk mengatasi tantangan dan hambatan politik,
ekonomi dan sosial menuju perdamaian dan kemajuan,”
terang Presiden.
Usai memberikan sambutan, didampingi oleh Menag
Maftuh Basyuni dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Presiden
SBY memukul bedug sebagai tanda peresmian pembukaan ICIS III.
Sumber : presidenri.go.id
|