2 Januari 2008
3 Tahun Tsunami: Aceh & Nias Telah Beri
Pelajaran Kepada Dunia
*) Kuntoro Mangkusubroto Sampaikan
Terima Kasih Kepada Masyarakat Aceh & Nias
Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh
dan Nias Kuntoro Mangkusubroto mengatakan bahwa bencana Tsunami
dan Gempa Bumi yang melanda Aceh dan Nias telah membuka mata
dunia dan memberikan pelajaran penting, tidak saja bagi Indonesia,
tetapi bagi masyarakat dunia. Pernyataan tersebut disampaikannya
pada saat peringatan 3 tahun bencana Tsunami hari ini di Calang,
Aceh Jaya. “Seluruh dunia ingin belajar dari Aceh dan
Nias,” tegas Kuntoro.
Pelajaran yang bisa dipetik antara lain adalah
pentingnya kebersamaan semua pihak dalam memberikan respons
atas bencana Tsunami, dukungan dan determinasi masyarakat
Aceh dan Nias, komitmen pemerintah, peraturan dan regulasi
yang mendukung, serta keberanian untuk mengambil inisiatif.
“Semua ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi
daerah lain di Indonesia dan juga bagi dunia internasional
tentang bagaimana menghadapi sebuah bencana sebesar yang terjadi
di Aceh dan Nias 3 tahun yang lalu,” terang kuntoro.
Pada kesempatan yang sama Kuntoro menjelaskan
bahwa selama hampir tiga tahun memimpin badan pelaksana BRR,
dia telah bertemu dengan berbagai kepala negara, kepala pemerintahan,
serta pejabat dari berbagai Negara dan lembaga internasional.
Semuanya memberikan apresiasi atas determinasi dan dukungan
masyarakat Aceh dan Nias dalam menghadapi situasi pasca bencana
Tsunami.
“Karena itu, saya ingin menyampaikan terima
kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh masyarakat
Aceh dan Nias atas dukungan yang diberikan selama ini, karena
hal tersebut merupakan salah satu aspek penting dalam mempercepat
kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias,”
Jelas Kuntoro.
Lebih lanjut Kuntoro mengatakan bahwa dukungan
masyarakat serta faktor-faktor penting lainnya, telah menjadikan
upaya rekonstruksi di Aceh dan Nias jauh lebih baik dibandingkan
dengan yang terjadi di Negara lain yang juga mengalami bencana
yang sama dengan yang dialami di Aceh dan Nias seperti Sri
Lanka. “Bahkan jika dibandingkan dengan upaya rekonstruksi
yang terjadi di negara lain seperti di Bam (Iran), Gujarat
(India), Honduras, dan Turki, misalnya, progress rekonstruksi
di Aceh jauh lebih cepat,” Kata Kuntoro.
Menurut Kuntoro yang jauh lebih penting saat
ini adalah bagaimana semua pihak di Aceh dan Nias dapat bersama-sama
menatap Aceh dan Nias kedepan dengan lebih baik. “Kita
memperingati Tsunami bersama-sama tapi kita tidak perlu seterusnya
bersedih, karena saya yakin masa depan Aceh dan Nias kedepan
akan jauh lebih baik,” Kata Kuntoro.
Capaian Rekonstruksi
Lebih lanjut Kuntoro menjelaskan bahwa saat ini
secara keseluruhan, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi
di Aceh dan Nias telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan,
tanpa menutup mata atas berbagai kekurangan yang terjadi di
sana-sini. “Memang masih banyak kekurangan disani-sini,
yang tentunya akan kita terus perbaiki, tapi BRR dan semua
pihak yang bekerja untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh
dan Nias telah menunjukkan capaian yang sangat menggembirakan,”
jelas Kuntoro.
Seperti diketahui, sampai akhir November 2007,
jumlah rumah baru yang telah terbangun mencapai 102.691 unit
dari 120.000 rumah yang harus dibangun. Lahan pertanian yang
telah selesai di rehabilitasi seluas 64.019 Ha (dari total
yang rusak sebesar 60.000 Ha), panjang jalan yang telah selesai
sepanjang 2.191 km (dari total kebutuhan 3.000 km), pelabuhan
laut yang telah selesai di rehabilitasi dan di rekonstruksi
sebanyak 17 unit (dari yang rusak sebanyak 14 unit), dan Bandara/Aistrip
yang telah selesai sebanyak 10 unit (dari 11 unit yang dibutuhkan).
Selain capaian tersebut, jumlah guru yang telah
dilatih sampai November 2007 sejumlah 23.095 orang (dari 2.500
orang guru yang meninggal), serta fasilitas kesehatan sejumlah
613 unit dari jumlah yang sebelumnya rusak 127 unit. “Semua
capaian ini hanya bisa diperoleh dengan bantuan dan dukungan
masyarakat Aceh dan Nias. BRR sendiri tetap pada komitmennya
untuk menyelesaikan tugas sampai April 2009,” Kata Kuntoro.
Sumber : BRR
|